Tampilkan postingan dengan label cerita mamadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita mamadis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2020

Ramadan During COVID-19

Bismillah

Bulan suci tahun ini, bulan Ramadan yang selalu dinanti-nanti umat muslim diseluruh dunia terasa berbeda. Seperti yang kita ketahui, tahun ini dunia sedang didatangi oleh makhluk kecil Allah Subhanahuwata'ala, yang amat sangat kecil namun mengguncang bumi-Nya.

Sampai menjelang Ramadan tiba, pasukan kecil tersebut belum mau pergi dari rumah sementara manusia. Sehingga Ramadan dipastikan dijalani dengan suasana berbeda.

Tiada Shalat Tarawih berjamaah di Masjid atau Mushola, tiada Iftar Jama'i, tiada Sahur On The Road, tiada ritual Buka Bersama yang biasa dilakukan dengan dalih "silaturahim"

Suasana boleh berbeda, tapi amalan dan kewajiban di bulan suci tetap sama. Tiada Tarawih berjamaah dimasjid, Tarawihlah berjamaah bersama keluarga, tiada Iftar Jama'i di Masjid, berbuka puasa dengan intimlah bersama keluarga, tiada Sahur On The Road, gunakanlah waktu Subuhmu untuk bermunajat kepada Allah dan membaca ayat-ayat suci-Nya, tiada ritual Buka Bersama, tak apa, silaturahim tidak sebatas hadir saat acara tersebut atau tidak.

Kalau difikir secara logika, Allah memberikan keadaan seperti ini pasti ada alasannya. Mari kita ambil hikmahnya saja. Bukankah dengan keadaan seperti ini Allah memberikan waktu kita untuk beribadah, mengisi hari dengan bermunajat dan kegiatan positif lainnya tanpa harus terdistraksi dengan kegiatan duniawi. Bukankah kita bisa melakukan banyak kebaikan di bulan ini walau hanya bisa kita lakukan secara virtual.

Mengutip perkataan Ust Adi Hidayat "Allah sudah memberikan kondisi Ramadan seperti ini tahun ini untuk memaksimalkan ibadah kita, menyiapkan bekal akhirat kita. Lantas jika masih saja tidak bisa maksimal, harus kondisi seperti apalagi yang Allah berikan kepada kita? Kurangkah ujian saat ini untuk mengingat-Nya?"


MasyaAllah, semoga kita semua tidak menjadi futur dan tetap istiqamah beribadah bahkan terus istiqamah meningkatkan ibadah berkali-kali lipat dari Ramadan yang lalu.

Sabtu, 15 Desember 2018

Beda Anak, Beda Tumbuh Kembangnya

Well, siapa disini yang suka banding-bandingin anak orang sama anaknya sendiri? Ngacung hayoooo!
Kayak, duh anaknya gendud semok ya kok anakku kecil. Atau malah justru membangga-banggakan anaknya walau dilakukan cuma dalam hati, hay anaknya seumuran anakku tapi kok dia belum bisa guling-guling ya, lemes banget tiduran terus.

Halo Bu, kalo si Ibunya denger bisa sakit hati, sedih, berujung depresi loh. Ibuknya mau tanggung jawab? Enggak kan! Yauda diem aja, liat aja, kalo si Ibuk anak itu nanya baru dijawab, jawab gak pake nyinyir gak pake bandingin anak situ sama anak dia yah.

Karena apa Buk? Karena ya tumbuh kembang (selanjutnya aku akan pakai dengan kata Tumbang) anak beda-beda Buk. Anak Ibu sama anak dia ya beda, pasti beda. Kenapa aku bilang gitu? Ya karena aku udah ngalamin sendiri, walau anakku yang kedua masih 7 bulan tapi kerasa banget bedanya. Bukan maksud bandingin sama anak sulung tapi ya memang beda Buk. Yang sedarah aja beda gimana yang beda darah. Geleuh

Gini contohnya, anakku Ghaisan lahir cuma 2,8 kg sampai gede perawakannya kecil karena ada indikasi ISK dan ADB yang agak telat penangannya selain itu karena perawakan dia ikut ke aku, Mamanya yang menurut orangtuaku ya aku kecil itu kayak Ghaisan. Makan sedikit, lama, diemut, badan kecil, keras kepala, dan lain-lainnya. Trus anak keduaku Ghazi lahir 3,2 kg, keliatan sekel, ginuk-ginuk dan gitu orang liat langsung dibandingin sama Abangnya. Ya aku kan kezel ya, gimana gak gitu wong berat lahir aja beda 1.5 kilo malih ya beda ginuk-ginuknya lah. Lalu yang orang gak tahu, Ghazi ini ngikut ke perawakan Papanya, karena mertuaku bilang sendiri Papanya kecil kayak gitu, persis. Nah tau kan, anak sendiri aja dibandingin orang aku sedih, kesel gimana anak Ibuk dibandingin sama anak orang lain?

Masalah tumbang pun begitu. Ghazi ini tipe yang Tumbangnya cepat, mulai dari tengkurep, onggong-onggong, merangkak, duduk tegak, duduk sendiri, tumbuh gigi. Kalo dibandingin sama Ghaisan, jauh banget Ghazi lebih cepatnya. Trus Ghaisan gak normal gitu? Ya gak gitu, Tumbang Ghaisan masih dalam batas normal, Ghazi pun gitu. Karena Tumbang itu ada rentang waktunya, gak harus di satu waktu dan kalo lebih dari waktu tersebut dibilang gak normal. Gak gitu ya Buk.

Ibu-ibu mending berkaca sama buku KIA, website IDAI, atau artikel yang terpercaya mengenaik Tumbang anak. Jangan ngaca sama anak orang, apalagi anak sendiri dibandingin. Duh sedih hayati.

Sejatinya semua anak sehat akan tumbuh dan berkembang, masalah waktu saja yang berbeda.

Salam hangat
Mamak GG

Selasa, 25 September 2018

Officially 27

Alhamdulillah i'm officially 27 🤘

Emang kenapa sih 27 tahun? Ada yang spesial?
Ya gak ada, lo kira martabak spesial 3 telor bebek 👻

Udah mulai dari tahun 2016, kami memang tidak pernah merayakan yang namanya ulang tahun, hari lahir, milad endebray endebray. Kenapa? Ya karena udah tau hadistnya kalo itu HARAM 🤘

Jadi hari lahir ya terlewat begitu saja, malah kadang kami berdua lupa. Kalo Bapak Erdi tuh inget karena gue selalu minta traktiran makan enak di hari lahir dia atau gue (iya gak mau rugi gue mah)

27 tahun ada apa sih? Apa aja yang udah tercapai? Apa aja yang belum tercapai?

Kita rinci satu per satu gak abis-abis sih nanti. Namanya manusia kan, manusiawi banget punya banyak keinginan.

Bersyukur Alhamdulillah Allah SWT masih memberikan kesempatan gue menikmati hidup di bumiNya sampai umur 27th ini.
Udah banyak nikmatNya yang gue rasain sampai saat ini. Banyak kemudahan yang Allah SWT berikan di kehidupan gue, pun kesulitan yang gue yakini itu sebagai ujian hidup gue.

27 tahun gue udah berstatus istri, ibu dari 2 anak laki-laki. Yang mana masih banyak diluar sana di umurnya yang segini belum diketemukan dengan jodohnya, atau belum diberikan rezeki anak. Bersyukurlah kalian!

Target hidup gue memang, umur 25 tahun gue nikah. Alhamdulillah Allah SWT percepat, umur 24th udah menikah dan umur 25th udah jadi ibu anak 1.
Dan di umur 27th ini udah nambah gelarnya jadi ibu anak 2. Walau itu diluar rencana, tapi Allah SWT baik hati sekali sama gue, dikasih rezeki anak kedua secepat itu. Yang awalnya gue kaget untuk menerima itu, yang terbayang apakah gue sanggup memegang amanahNya itu, yang kalo diceritain bisa satu post sendiri. Doain gak males ya, nanti gue ceritain :p

Target lainnya, mau ngurus anak sendiri. Alhamdulillah tercapai, tanpa harus adu tegang sama Bapak Erdi, tanpa galau ngelepas karir. Semua ikhlas dilakuin karena memang sudah berniat. (Pembahasan tentang IRT sudah pernah di post)

Target liburan keluarga, pulang kampung kalo Lebaran (karena ini sebelum nikah gak punya kampung), tinggal terpisah dari orangtua/mertua semua sudah tercapai, Alhamdulillah.

Target kami selanjutnya, mau berkunjung ke Rumah Allah sekeluarga, sama anak-anak kami.

Target gue pribadi, berani bawa mobil ke jalan besar. Agar supaya mimpi gue nganter sendiri anak ke sekolahnya tercapai hehe. Trus mau lebih fokus ibadah, bisa tepat waktu, ibadah sunnah dijalankan. Mungkin nanti kalo bayi ini sudah beranjak menuju batita mamaknya bisa fokus kesitu. Dan semoga mamak ini diberikan kesabaran yang luaaass selalu agar gak gampang naik sasak 👻

Dah ah, doa terbaik untuk kalian semua pembaca blogku (kalo masih ada yang baca).

Ingat, semakin bertambah angka umurmu, semakin berkurang jatah hidupmu di dunia ini.