Tampilkan postingan dengan label mamadis bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mamadis bercerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2022

I Have a Dream....

Hello 2022!

Masih dalam kondisi pandemi Covid-19 kehidupan ini harus berjalan. Sabar, dan bersabar aja menjalani ujian hidup dari Allah Subhanahuwata'ala.

Oke, sesuai judul kali ini aku mau cerita tentang salah satu mimpi aku. Mimpi yang agak mustahil terwujud, bisa dibilang begitu sih. Tapi, Kun Faya Kun! Kalo Allah berkata seperti itu, semua bisa terjadi.

Yes!

Begitupun mimpiku ini.

Meski tidak 100% tercapai.

Apasih?

Dulu, jaman SMA gitu aku tuh suka banget liatin orang apalagi cewek nyetir mobil sendiri. Kayak berasa keren gitu hahaha.
Trus double amaze, liat cewe nyetir sendiri pakai mobil Honda Jazz! Auto menghalu "ih aku mau begitu juga. Nanti aku mau anter jemput anak sekolah sendiri pake Jazz.

Tapi, ya namanya juga mimpi, angan-angan, gak selalu bisa terwujud kan. Cuma, mimpi mah gratis jadi ya sah aja memimpikan apa aja kan ya.

Asal dibarengi dengan doa dan keyakinan, siapa tau bisa terwujud.

And, i did it.

Sampe sekarang kayak masih gak percaya, aku, anter jemput anak sekolah, nyetir sendiri, walau bukan pake Jazz. Tapi that's make amaze with my self. Aku loh, bisa nyetir mobil sendiri! 

*Walau masih sebatas rumah - sekolah - rumah, mentok ke depan komplek gak lebih.

Tapi ya amaze, beneran loh ternyata sekarang aku bisa nyetir mobil sendiri. Mimpi aku dimasa SMA terwujud.

Jadi, buat kalian yang punya mimpi, gak salah kok dan boleh banget loh berusaha untuk mewujudkan mimpi itu. Kita berikhtiar ke Allah Subhanahuwata'ala untuk meraihnya, InsyaAllah dikasih jalan terbaik.

Ya, aku mau gak mau nyetir mobil sendiri, anterjemput anak sekolah ya karena siapa lagi yang bisa anter jemput anakku saat suamiku kerja everyday. Keterpaksaan itu ternyata membuat salah satu mimpiku terwujud. Wehehe


Cheers,
Mamadis ❤️

Rabu, 13 Januari 2021

Toxic Circle (?)

Toxic atau racun dimana-mana ya gak ada manfaatnya. Gak membawa keuntungan sama sekali.

Banyak jenis toxic di kehidupan. Salah satunya toxic people yang meluas menjadi toxic circle.

Pernah denger kan kalimat "kamu cerminan teman-temanmu" atau "kalo mau wangi maka bergaullah dengan penjual parfum"

Yes. That's true!

Gimana lingkungan pertemanan kita akan mempengaruhi sikap kita di kehidupan sosial kita

Temanmu hafidzah, InsyaAllah kamu akan terpacu meniru kesholehahan dia. Walau susah, seenggaknya dia gak mengajarkanmu untuk zina.

Temanmu tukang adu domba, hmm mungkin suatu saat kamu yang diadu kambing sama dia.

Toxic people itu banyaaaak. Tapi kita bisa kok memfilter circle kita sendiri. Yang bikin kita nyaman, yang bikin kita menjadi manusia lebih baik, yang mengajak kita kearah kebaikan, yang selalu ngingetin kita akan kehidupan dunia akhirat. Dengan self filter itu kita akan memiliki circle yang bersih dari orang-orang yang berusaha menghasut, atau bahkan menjatuhkan kita dibelakangnya.

Kalo sudah terlanjur memiliki toxic people in your circle gimana?
Hmm..

Kamu bisa melipir, cukup lihat dan tidak terlibat lebih dalam. Atau, kamu bisa langsung meninggalkan mereka. Simple.

Karena, orang-orang kayak begitu agak susah menerima nasihat dari yang gak sepaham. Mereka akan menerima orang yang meng-iya-kan mereka. Mereka akan menghempas orang yang dianggap sok menasihati mereka, sok lebih baik. Jadi daripada pusing, diamkan dan tinggalkan.

People come and go. That's life. But, Allah Subhanahuwata'ala never ever leave you alone.

Ditinggal atau meninggalkan lingkungan toxic, gapapa jangan sedih.
Kalo ditinggalkan ya artinya filtermu berjalan sendiri tanpa perlu kamu bersusah payah.

Jangan lupa untuk meminta maaf dan muhasabah diri, karena bisa jadi mungkin kamu juga dianggap toxic oleh yang lain.

Cheers.
Mamadis ❤️

Sabtu, 28 November 2020

Ujian itu adalah...

Setiap makhluk yang bernyawa pasti mempunyai ujiannya tersendiri. Tidak terkecuali hewan dan tumbuhan, walau mereka tidak mempunyai akal dan pikiran.


Manusia diberikan ujian hidup oleh Allah Subhanahuwata'ala semata-mata demi mendekatkan diri kepada-Nya.


Allah kangen dirayu, Allah kangen kita bermanja-manja dengan-Nya juga, bukan dengan sesama makhluk-Nya saja.

Allah kangen memberi apa yang kita minta setelah kita rayu. Sekangen itu Allah sama kita sampe dia harus memberi ujian kepad kita dulu agar supaya kita ingat Dia.


Sedih dapat ujian mulu? Sampe merasa gak mampu hidup?


Posisikan terbalik. Apa Allah gak lebih sedih ketika Dia diduakan dengan yang lain? Kalo Allah sedih trus kasih kita ujian, harusnya kita senang tapi memang yang namanya ujian gak pernah mudah.


Dan bentuk ujian itu bermacam-macam. Kebahagiaan yang kita punya bisa jadi ujian kita untuk orang lain.


Yang kita lihat, wanita itu disayang suami, punya anak banyak baik budinya, mertua penyayang, saudara ipar perhatian, keluarga harmonis, kaya raya. Tapi kita gak tau kesedihan apa yang sedang dia simpan bukan?


Mungkin suaminya sayang, tapi suaminya sibuk mencari nafkah sehingga sedikit waktu untuk istri dan anaknya.

Mungkin mertuanya penyayang, tapi bisa jadi tinggal di pulau yang berbeda.

Mungkin iparnya perhatian tapi tetap terbatas karena ipar bukan mahromnya.

Semua itu mungkin ujian baginya. Tapi tidak dia perlihatkan. Buat apa? Bukannkah istri itu pakaian suaminya? Untuk apa dia umbar aurat suaminya?


Subhanallah.


Maka dari itu, janganlah merasa paling menderita sendiri. 

Lebih baik, pantaskan selalu diri kita bukan hanya dimata manusia, tetapi khususnya dimata Allah Subhanhuwata'ala. Dia yang paling berhak atas diri kita ini.


Jalankan kewajiban dari-Nya. Mungkin auratmu masih sering terlihat. Mungkin sifat riyamu masih sering muncul. Mungkin sedekahmu kurang. 

Introspeksi diri kemudian istiqamahlah dalam jalan yang telah engkau pilih.


Sesungguhnya Allah sayang sekali sama kita.


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286).

Jumat, 30 Oktober 2020

Self Reward

Bismillah

Berbicara mengenai self reward atau penghargaan terhadap diri sendiri rasanya penting tapi masih banyak yang abai.
Padahal ya, mengapresiasikan diri itu gak mahal loh. Sekedar berterimakasih kepada diri sendiri karena masih kuat sampai detik ini.

Karena ku tahu, tekanan yang datang dari luar itu banyak dan berat. Harus pandai memilah mana yang sebaiknya kita abaikan, mana yang harus kita bold dan berjuang menggapainya.

Untuk mencapai sebuah hasil itu gak lepas dari yang namanya kerja keras. Pegawai aja kerja dibayar dengan gaji, kenapa diri sendiri yang struggling setiap hari tidak kita apresiasikan?

Gak peduli masih gadis atau udah Ibu-ibu, single atau berpasangan, apresiasilah diri kita sendiri. Kalo bukan kita yang memperhatikan diri kita sendiri, siapa lagi? Orang lain bahkan mungkin menganggap sebelah mata kita. Bahkan mungkin ada yang menganggap kita tidak bekerja keras dan tidak layak mendapat apresiasi. Siapa yang tahu selain kita sendiri kan?

Yuk, mulai kasih reward ke diri sendiri. Tidak harus berupa materi, apalagi yang mahal dan malah bikin stress dan kepikiran di hari esoknya. Sekedar "aku mau libur masak dan makan makanan Restaurant karena 1 minggu ini aku berhasil menahan emosi kepada anak" atau "aku mau jajan sepatu baru, karena satu bulan ini aku berhasil rutin dan fokus untuk berolahraga" atau "aku mau baca buku-buku yang belum sempat kubaca, karena aku berhasil mengerjakan tugas kantor sebelum deathline". Simple kan?

Aku sendiri sudah rutin memberi reward ke diriku sedari menjadi mahasiswa dulu. Sekedar jajan komik Conan aja aku udah bahagia, reward karena bisa menghemat duit makan berkat belajar memasak. Sekarang sudah Ibu-ibu rewardnya lebih ke printilan rumah tangga atau dapur aja yang bisa dibeli dengan menabung dulu hihi.

Cowok juga bisa gak? Bisa banget! Suamiku itu gak keliatan tapi dia melakukan self reward loh. Misal, beli sepatu futsal karena mulai rutin olahraga, biar makin semangat. 

Jadi, jangan lupa mengapresiasikan diri sendiri ya. Gak perlu mahal, gak perlu materi, yang penting jiwa ini terisi kembali dengan sebuah kebahagiaan baru dan kepuasan tersendiri ❤️


Cheers,
Mamadis




Psst, ini reward terbaruku karena aku merasa akhir-akhir ini semangat masakku meningkat 😂