Aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta kepadamu.
Tapi sebelum aku menemukanmu, aku begitu suka menceritakanmu di dalam doa-doaku.
Jika saat ini kau ada, aku percaya; Tuhan memang Maha Baik, pun Tuhan begitu Maha Cinta.
Aku tidak pernah sekalipun menyesali pertemuan kita.
Pun dengan cinta yang semakin hari semakin tumbuh baik dalam kasih bahagia.
Darimu aku sanggup mensyukuri hal-hal kecil yang ternyata dari sana kita sanggup tumbuh dalam bahagia yang sebenarnya.
Aku mencintai baik burukmu.
Aku mencintai lebih kurangmu.
Aku mencintaimu dalam tulus doa dan cinta.
Dan sepertinya, kau begitu paham apa yang kurasa, bahkan tanpa perlu aku mengatakannnya.
Suamiku, ketika Tuhan mempertemukan kita.
Aku percaya, Tuhan mempercayai kita.
Mungkin jalan kita akan berbeda dengan yang lainnya.
Sulit, rumit.
Tetapi aku selalu yakin, bersama kita akan menyelesaikan semuanya.
Aku ingin menemanimu dalam suka dan duka yang bersama.
Aku mencintaimu dengan berbagai macam cara.
Dan semoga, Tuhan tak akan lagi memiliki alasan untuk memisahkan kita.
Report from SA
@tausiyahku_
Kamis, 06 Agustus 2015
Kamis, 26 Desember 2013
Teruntuk, kamu...
Teruntuk kamu yang sekarang berada di ujung timur Indonesia.
Pertama kali kita kenalan, aku syok begitu kamu menyebutkan asal daerah kamu.
Setelah itu aku dibuat syok lagi begitu kamu bilang jurusan yang kamu ambil itu Teknik Elektro. Kenapa aku syok? Baru kali ini aku kenalan sama orang dari ujung timur Indonesia, Manokwari. Selama ini, asal daerah teman-temanku gak lebih dari Jawa dan Sumatera. Ada rasa senang bisa berkenalan dengan teman dari daerah yang berbeda. Lalu, setelah kamu sebutkan jurusan yang kamu ambil berbeda denganku, ada sedikit kekaguman dalam diri aku. "Kamu hebat, jarang cewek yang mau ambil jurusan listrik. Aku saja masih setengah hati untuk menjadi anak Teknik".
Waktu bergulir dan pertemanan kita semakin dekat. Walaupun kamu orangnya ambekan, walaupun kadang kita anak kosan suka takut sama kamu kalo kamu lagi marah, tapi aku tahu kamu yang paling perhatian sama teman-teman kamu. Entah kenapa aku bisa ngerasain, kamu itu kalo berteman tulus, gak mandang dia siapa, jurusan apa, dari daerah mana. Itu yang membuat aku betah jadi teman kamu.
Pertemanan gak sebatas tinggal bersama kan? Suatu hari kamu pindah kosan pun kita masih sering bareng. Bahkan rumah baru mu lebih sering aku singgahi terlebih saat aku lagi galau dan pengen curhat sama kamu. Oh iya, rumah barumu juga jadi saksi bisu antara aku sama Kak Erdi juga kan? Haha aku mau ketawa kalo inget kejadian itu, kamu dan teman kita satu lagi disogok sebotol Pulpy Orange sama Kak Erdi.
Hari-hari dikampus, kesibukan yang semakin membuat kita jarang bertemu terkadang menjadikan sebuah rindu. Rindu akan kebersamaan kita, rindu akan curhatan-curhatan dan tangisan lalu berpelukan untuk saling menenangkan. Tapi aku tahu, kita sudah semakin dibebani sama tugas akan kewajiban kita di kampus.
Yah, terlalu banyak momen indah yang kalo aku tulis disini bisa jadi 1000 halaman. Semua emang gak tertumpah disini, tapi akan kekal dalam hati kita masing-masing. Tak akan terganti karena setiap orang punya ceritanya sendiri.
Sekarang kamu udah bahagia di sisi orangtuamu lagi. Sudah berkumpul bersama kehangatan canda tawa keluargamu. Tapi aku yakin, kamu gak akan melupakan keluarga kecilmu di Jakarta, aku yakin karena aku tahu kamu.
Semoga kamu sukses membangun kota kelahiranmu ya. Kalo udah sukses jangan lupa sama teman-teman seperjuanganmu disini. Disini kita berjuang bersama selama 4 tahun untuk membuka pintu kesuksesan kita masing-masing.
Sampai bertemu lagi dalam kesuksesan kita nantinya. Aku akan merindukan kamu. Ah, maaf aku nangis waktu nulis ini. Aku terharu mengingat kebersamaan kita dulu. Kita pasti bertemu lagi kan? Kamu sudah janji ya bakal datang kalo aku nikah nanti. Doain aku ya biar ada rejeki lebih bisa ngasih kamu tiket PP, tapi kalo rejekimu yang berlebih, datanglah tanpa membawa apapun, aku sudah senang.
Dear Puput Supiyati Sumono. See ya ! :)
Senin, 19 Agustus 2013
Kebetulankah? Atau Memang Takdir Allah?
Kalau aku ingat kembali, perkenalanku dengan dia bukanlah sesuatu yang disengaja. Perkenalanku dengannya bukan perkenalan dengan media seorang teman. Bukan, bukan dengan semua itu. Aku berkenalan dengan dia melalui sebuah ajang orientasi jurusan, dimana semua mahasiwa jurusan IT angkatanku pun berkenalan dengannya. Namun mengapa dia memilihku? Wallahualam. Aku pun masih tak memahaminya sampai sekarang.
Kebetulankah?
Kami yang tidak pernah bertemu sebelumnya, bisa saling jatuh cinta.
Kami yang tidak pernah satu kota sebelumnya, bisa saling menyayangi.
Apa itu bisa disebut kebetulan?
3 tahun 6 bulan sudah kami bersama. Berantem, baikan, marahan, ngambek, diem-dieman semua masalah sudah pernah dirasakan tapi kami masih memilih bersama, masih memilih orang yang sama.
PS : *Terimakasih ya atas pembicaraan serius kemarin malam. Terimakasih sudah menyadarkan aku dengan cara halusmu. Terimakasih atas cambukanmu. Kini aku sadar umurku sudah bukan umur untuk main-main, begitu juga denganmu. Kita jalani bareng-bareng, kita usaha bareng-bareng, kita niatkan bareng-bareng. Mulai malam itu kita sepakat semua kita lakukan bareng-bareng.
Kebetulankah?
Kami yang tidak pernah bertemu sebelumnya, bisa saling jatuh cinta.
Kami yang tidak pernah satu kota sebelumnya, bisa saling menyayangi.
Apa itu bisa disebut kebetulan?
3 tahun 6 bulan sudah kami bersama. Berantem, baikan, marahan, ngambek, diem-dieman semua masalah sudah pernah dirasakan tapi kami masih memilih bersama, masih memilih orang yang sama.
Kebetulankah?
Apa kamu percaya sama yang namanya kebetulan? Kalau aku tidak. Aku percaya semua sudah digariskan oleh Allah. Semua sudah diatur jalannya oleh DIA, termasuk jalanku bersama dia.
Pertemuan yang tidak bisa dibilang indah. Sebuah kesalahan yang terjadi dimasa lalu namun berakhir indah untukku saat ini.
Aku tidak pernah menyesali masalaluku ataupun masalalunya. Biarlah semua tetap menjadi masa lalu. Terimakasih ya Rabb atas garis takdirMu untuk kami.
Kini kami sedang berusaha untuk menatap masa depan kami berdua. Untuk itu, jangan biarkan semua ini sia-sia ya Allah. Aku percaya semua yang terjadi bukan hanya sekedar kebetulan semata. Semesta punya jawaban atas semua ini.
Bismillah. Dengan menyebut nama Allah, lancarkan semua rencana kami. Semoga niat baik kami engkau Ridhai ya Allah.
-disstea
Sabtu, 03 Agustus 2013
[REPOST] Berlebihan Enggak Sih?
- Berlebihan enggak sih kalau aku jadi ibu dari anak-anak kamu nanti.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu jadi imam aku nanti, ketika kita sudah menjadi halal.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu, kamu orang yang setiap hari aku kecup keningnya saat kita bangun tidur.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu jadi pendengar pertama saat aku ada masalah-masalah sama kerjaan aku.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu jadi guru ngaji anak-anakku nanti setelah kita melakukan shalat magrib.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu, kamu orang yang pertama aku bangunin setiap pagi untuk shalat subuh.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu jadi orang terakhir yang aku liat sebelum tidur. @deplant19
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu, kamu yang aku masakin tiap hari.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu dan kita jadi orang yang bisa menyelesaikan masalah bareng-bareng nanti.
- Berlebihan enggak sih kalau aku mau kamu, kamu yang aku sediain sarapan saat kamu mau berangkat kerja nanti.
Inti dari pertanyaan tadi aku mau kamu denger lagunya Maliq n D'essentials yang Pilihanku :)
(aamiin~)
Sumber : LDR Story
*Editing sedikit karena disesuaikan dengan gender*
Labels
LDR,
Love Story,
Pray,
Relationship,
Simple Love