Kepada jarak aku menitipkan cinta
Kepada jarak aku menitipkan rindu
Kepada jarak aku menitipkan sayang
Kepada jarak aku menitipkan senyum
Kepada jarak aku menitipkan kepercayaan
Kepada jarak aku menitipkan rasa bangga
Kepada jarak aku menitipkan rasa terima kasih
Dan kepada jarak aku menitipkan doa
Untuk dia, dia yang ada disana yang sedang berjuang juga untuk masa depan kita, masa depan aku dan dia.
Insya Allah.
Selasa, 25 Juni 2013
Senin, 24 Juni 2013
Review Film Refrain
Film Refrain diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama "Refrain", diperankan oleh Afgan sebagai Nata, Maudy Ayunda sebagai Niki dan Chelsea Islan sebagai Annalise. Ceritanya tentang persahabatan yang terjebak cinta segitiga didalamnya. Well, gw menyebut demikian karena ketiganya saling jatuh cinta.
Sebenarnya udah yakin, novel yang dijadiin film pasti akan beda jalan ceritanya. Gak sesuai sama ekpetasi kita waktu baca novelnya (re:ngayal). Overall, karena gw suka sama cerita di novelnya, dan yang main jadi Nata si Afgan, gw tetep memilih nonton.
Berikut ulasan atau review atau pandangan gw tentang Film Refrain VS Novel Refrain
Sebenarnya udah yakin, novel yang dijadiin film pasti akan beda jalan ceritanya. Gak sesuai sama ekpetasi kita waktu baca novelnya (re:ngayal). Overall, karena gw suka sama cerita di novelnya, dan yang main jadi Nata si Afgan, gw tetep memilih nonton.
Berikut ulasan atau review atau pandangan gw tentang Film Refrain VS Novel Refrain
- Gak ada sosok Mama Niki dan Klaudie, adik Niki di Film Refrain
- Sosok Vidia Rossa, ibu Annalise cuma ditampilkan sebagai poster di kamar Niki (itu juga sekelebat gak tau jadinya siapa yang ada di poster itu)
- Di Film, pas Anna baru datang ke sekolah, Niki udah tau kalo dia anak dari Vidia Rossa dan langsung kenalan saat itu juga bukan dikelas.
- Adegan di UKS, Nata ngasih obat cacing pas tau Anna pusing. Padahal di Novel Nata cuma nawarin tempat tidur ke Anna.
- Niki yang bilang ke Anna "aku sama Nata temenan, sahabatan dari kecil" bukan Nata.
- Di Novel, Niki nawarin ke Anna buat gabung di ekskul Cheers. Sedaangkan di Film, Helena doang yang ngajak Anna.
- Di Novel, Anna, Niki, Nata nunggu mama Anna yang katanya mau datang ke Jakarta sampe berjam-jam. Di film, belum juga turun dari taxi Anna udah tau kalo mamanya gak jadi datang.
- Gak ada adegan ban sepeda Nata bocor dan mereka akhirnya ke rumah Annalise.
- Niki nulis no teleponnya pake lipstik di kertas. Di film, nulisnya di baju sekolah Oliver.
- Pas Niki ngedate sama Oliver, Nata sama Anna pergi ke Mall mau nonton trus ke kedai kopi. Di film mereka cuma jalan di sepanjang Bundaran HI
- Mobil Oliver mogok karena jalanan banjir dan mereka nunggu derek sambil berteduh. Disitu Oliver yang ngasih jaket. Di film, gak ada banjir tiba-tiba berhenti (mungkin maksudnya mogok) dan Niki ikutan keluar mobil. Niki ngasih jaket biar dipake bareng. (Disini agak gak masuk akal, mobilnya mogok? Tapi Whipper mobilnya masih gerak :|)
- Pas Niki sakit, Nata nemenin niki sambil main monopoli trus Oliver datang. Adegan ini gak ada, cuma Nata yg bawa soal TO buat Niki.
- Nata ikutan secret admirer pake amplop biru. Di film amplop itu cuma disimpen trus dikasih nya lewat Kak Danny ke Niki pas Nata udah sekolah ke luar negeri.
- Gak ada Anna ke rumah Nata dan mereka duduk di trampolin berdua trus Niki ngeliat.
- Pas Nata kecelakaan itu Niki lagi nonton Oliver tanding basket di sekolahnya. Di film, Niki lagi ngedate sama Oliver.
- Gak ada cerita Anna ikut lomba photography
- Di Film Niki dan Nata tau Anna suka sama Nata pas Anna lagi megang foto Nata trus Anna kaget Niki Nata dateng tiba-tiba ke rumahnya karena dia bolos. Pas Anna bilang suka ke Nata, Nata dengan polos jawab "Sorry An, tapi gue udah sayang sama Niki" dan Niki denger.
- Gak ada cerita Anna mau ikut mamanya pindah ke Milan (Ya wong mamanya aja invicible)
- Di Novel, Niki tau Nata sayang dia dari tulisan Nata yang Niki temukan di kamar Nata.
- Di Novel, gak ada Niki salah nyebut nama Oliver jadi Nata. Dan itu bikin Oliver marah ke Niki. Gak ada.
- Di film gak ada sosok Shasa dan gak diceritain kalo Helena akhir-akhir ini sering ketemu Oliver.
- Adegan prom beda!! Banget!! konfliknya beda pake banget!!
- Prom di novel tuh gini, Oliver diboongin sama Helena kalo dia datang ke prom sama Helena dia bakal ketemu sama Shasa. Oliver gak tega sama Niki cuma bisa bilang dia sakit gak jadi ke Prom. Niki udah bawa monopoli ke rumah Oliver tapi Oliver pergi. Niki nyusul ke prom dan dia liat Oliver sama Helena. Dia nangis dan pergi dari prom trus ada Nata naik sepeda nyusul Niki.
- Prom di film? Oliver ngambek marah pas Niki salah nyebut nama dia jadi Nata. Malemnya nelpon Niki bilang sakit. Niki berangkat prom sendiri. Nata juga ada di prom itu. Oliver dateng sama Helena dengan muka licik. Niki mau nampar Oliver tapi ditahan Helena trus tiba-tiba Nata tarik tangan Niki dan nonjok Oliver. Disni kesannya Oliver jahat ya. Klo di novel kan dia kayak gitu demi Shasa karena Shasa cinta pertama dia.
- Nata sekolah musik ke Viena, bukan Amerika.
- Niki jadi designer, bukan guru :|
- Niki nyusul Nata ke Viena karena surat biru yang dikasih kak Danny pas Nata pergi. Gak ada tuh adegan nangis-nangisan di bandara :|
- Cerita di Viena, Niki mau ke Universitas Nata tapi ditengah jalan dia liat Nata naik sepeda. Minta berhenti buat nyamperin Nata tapi malah ditinggal sama supir taxinya karena gak bisa berhenti lama-lama. Koper Niki masih di taxi. Trus dia jalan nyari-nyari Nata sampai di Univ nya dia dikasih tau kalo ada mahasiswa dari Indonesia lagi ujian dan itu benar Nata.
- Mereka naik delman trus jadian deh.
But, dibalik semua perbedaan itu. Gue tetep suka sama manisnya cerita Niki, Nata dan Anna.
Sekian.
"You're the song that keeps on playing, you're the part that keeps repeating. Sing it all over again, like a refrain.."
Rabu, 22 Mei 2013
Hujan
Dulu aku menyukai hujan. Hujan itu romantis, hujan itu kata-kata yang tidak tersampaikan. Hujan itu anugerah.
Sampai pada suatu kejadian, dimana aku benci akan hujan. Terlebih ada suatu lagu yang berjudul Hujan.
Mengapa? Karena..
Hujan mengingatkanku tentang cerita dia dan masa lalunya.
Hujan masih membawa dia dengan arusnya ke kehidupan lalunya.
Hujan menyeret dia untuk mengingat kenangan yang berputar antara mereka.
Dan hujan adalah sebuah lagu yang selalu dia dengar untuk berharap semua akan kembali seperti dulu.
Saat itu aku membenci hujan.
Hujan gak lebih dari sebuah jerat yang menghalangi masa depan datang karena akan selalu ada masa lalu didalamnya.
Ya, aku benci hujan.
Hujan yang membuat semua yang sudah diperjuangkan hampir menjadi sia-sia.
Hujan yang membuat aku menjadi sebuah pilihan.
Hai hujan, memang kau pikir enak menjadi sebuah pilihan? TIDAK
Hai hujan, mengapa tak kau seret saja sesuatu yang masa lalu pergi bersamamu?
Hai hujan, bukankah setelah kau pergi akan muncul pelangi yang indah? Ya, aku butuh pelangi bukan kamu!
Gara-gara kamu hujan, aku merasakan bagaimana rasanya menunggu ketidakpastian.
Gara-gara kamu hujan, aku merasakan bagaimana rasa sayangnya padaku terbagi.
SEMUA KARENA KAMU, HUJAN!
Tapi sekarang, semua memory tentang kebencianku akan hujan terhapus sudah.
Memang aku merasakan sakitnya dikhianati, perihnya dibohongi, semua karena hujan.
Tapi hujan, bukankah semua manusia akan merasakan sakit sebelum datangnya bahagia?
Sekarang, terimakasih ya Hujan, karenamu bahagia yang lebih dari sekedar bahagia datang kepadaku.
Biarlah kebencianku akan hujan menjadi sebuah pelajaran hidup yang sangat bermakna.
Ya hujan, karena aku sudah merasakan tidak enaknya menjadi sebuah pilihan, maka aku juga tidak akan pernah mau memilih
Ya hujan. karena aku sudah merasakan tidak enaknya dikhianati, maka aku juga tidak akan mengkhianati seseorang.
Aku akan menjaganya hujan.
Semua tidak boleh jadi kesia-siaan bukan? Seperti yang ia katakan.
Sekarang, aku menunggu datangmu hujan, aku menunggu sejukmu hujan. Karena aku butuh pelangi. Dan aku tahu, pelangi akan selalu datang setelah kamu, hujan.
Aku selalu bahagia, saat hujan turun karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri.
Sampai pada suatu kejadian, dimana aku benci akan hujan. Terlebih ada suatu lagu yang berjudul Hujan.
Mengapa? Karena..
Hujan mengingatkanku tentang cerita dia dan masa lalunya.
Hujan masih membawa dia dengan arusnya ke kehidupan lalunya.
Hujan menyeret dia untuk mengingat kenangan yang berputar antara mereka.
Dan hujan adalah sebuah lagu yang selalu dia dengar untuk berharap semua akan kembali seperti dulu.
Saat itu aku membenci hujan.
Hujan gak lebih dari sebuah jerat yang menghalangi masa depan datang karena akan selalu ada masa lalu didalamnya.
Ya, aku benci hujan.
Hujan yang membuat semua yang sudah diperjuangkan hampir menjadi sia-sia.
Hujan yang membuat aku menjadi sebuah pilihan.
Hai hujan, memang kau pikir enak menjadi sebuah pilihan? TIDAK
Hai hujan, mengapa tak kau seret saja sesuatu yang masa lalu pergi bersamamu?
Hai hujan, bukankah setelah kau pergi akan muncul pelangi yang indah? Ya, aku butuh pelangi bukan kamu!
Gara-gara kamu hujan, aku merasakan bagaimana rasanya menunggu ketidakpastian.
Gara-gara kamu hujan, aku merasakan bagaimana rasa sayangnya padaku terbagi.
SEMUA KARENA KAMU, HUJAN!
Tapi sekarang, semua memory tentang kebencianku akan hujan terhapus sudah.
Memang aku merasakan sakitnya dikhianati, perihnya dibohongi, semua karena hujan.
Tapi hujan, bukankah semua manusia akan merasakan sakit sebelum datangnya bahagia?
Sekarang, terimakasih ya Hujan, karenamu bahagia yang lebih dari sekedar bahagia datang kepadaku.
Biarlah kebencianku akan hujan menjadi sebuah pelajaran hidup yang sangat bermakna.
Ya hujan, karena aku sudah merasakan tidak enaknya menjadi sebuah pilihan, maka aku juga tidak akan pernah mau memilih
Ya hujan. karena aku sudah merasakan tidak enaknya dikhianati, maka aku juga tidak akan mengkhianati seseorang.
Aku akan menjaganya hujan.
Semua tidak boleh jadi kesia-siaan bukan? Seperti yang ia katakan.
Sekarang, aku menunggu datangmu hujan, aku menunggu sejukmu hujan. Karena aku butuh pelangi. Dan aku tahu, pelangi akan selalu datang setelah kamu, hujan.
Aku selalu bahagia, saat hujan turun karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri.
Selasa, 07 Mei 2013
WISUDA
It's official now. Adhiesti Nurannisah, ST
Terimakasih untuk keluarga, pacar, sahabat, dan semua pihak atas support dan doanya. Alhamdulillah saya lulus di semester 7 ini.
Terimakasih untuk semuanya, segalanya :')






