Jumat, 30 Oktober 2020

Self Reward

Bismillah

Berbicara mengenai self reward atau penghargaan terhadap diri sendiri rasanya penting tapi masih banyak yang abai.
Padahal ya, mengapresiasikan diri itu gak mahal loh. Sekedar berterimakasih kepada diri sendiri karena masih kuat sampai detik ini.

Karena ku tahu, tekanan yang datang dari luar itu banyak dan berat. Harus pandai memilah mana yang sebaiknya kita abaikan, mana yang harus kita bold dan berjuang menggapainya.

Untuk mencapai sebuah hasil itu gak lepas dari yang namanya kerja keras. Pegawai aja kerja dibayar dengan gaji, kenapa diri sendiri yang struggling setiap hari tidak kita apresiasikan?

Gak peduli masih gadis atau udah Ibu-ibu, single atau berpasangan, apresiasilah diri kita sendiri. Kalo bukan kita yang memperhatikan diri kita sendiri, siapa lagi? Orang lain bahkan mungkin menganggap sebelah mata kita. Bahkan mungkin ada yang menganggap kita tidak bekerja keras dan tidak layak mendapat apresiasi. Siapa yang tahu selain kita sendiri kan?

Yuk, mulai kasih reward ke diri sendiri. Tidak harus berupa materi, apalagi yang mahal dan malah bikin stress dan kepikiran di hari esoknya. Sekedar "aku mau libur masak dan makan makanan Restaurant karena 1 minggu ini aku berhasil menahan emosi kepada anak" atau "aku mau jajan sepatu baru, karena satu bulan ini aku berhasil rutin dan fokus untuk berolahraga" atau "aku mau baca buku-buku yang belum sempat kubaca, karena aku berhasil mengerjakan tugas kantor sebelum deathline". Simple kan?

Aku sendiri sudah rutin memberi reward ke diriku sedari menjadi mahasiswa dulu. Sekedar jajan komik Conan aja aku udah bahagia, reward karena bisa menghemat duit makan berkat belajar memasak. Sekarang sudah Ibu-ibu rewardnya lebih ke printilan rumah tangga atau dapur aja yang bisa dibeli dengan menabung dulu hihi.

Cowok juga bisa gak? Bisa banget! Suamiku itu gak keliatan tapi dia melakukan self reward loh. Misal, beli sepatu futsal karena mulai rutin olahraga, biar makin semangat. 

Jadi, jangan lupa mengapresiasikan diri sendiri ya. Gak perlu mahal, gak perlu materi, yang penting jiwa ini terisi kembali dengan sebuah kebahagiaan baru dan kepuasan tersendiri ❤️


Cheers,
Mamadis




Psst, ini reward terbaruku karena aku merasa akhir-akhir ini semangat masakku meningkat 😂

Sabtu, 05 September 2020

Teruntuk Ibu² Sesama Pejuang PJJ

 Haloooo....


Assalamualaikum Ibu² pejuang PJJ. Gimana, masih semangat? Atau udah mulai darting kalo istilah hitsnya mah ✌️


Alhamdulillah ya semoga masih tetap sabar dan semangat menghadapi PJJ. Karena, karena, karena memang sebenarnya sudah kodratnya seorang Ibu itu menjadi guru pertama anaknya.


“Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”

Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik


Pasti sudah sering banget membaca ataupun mendengar kalimat tersebut. Ya kan ya kan. Tapi terkadang kita (termasuk aku mungkin) masih denial, kalo gitu buat apa guru disekolah? Bukankah tugas guru itu mengajar anak-anak supaya pintar?


<i>Ya benar sih, tapi gak gitu mainnya Buuuk.</i>


Selama pandemic ini, pendidikan yang diterapkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sekolah daring -dalam jaringan. Mungkin aku baru 2 bulan ini menjadi orangtua yang mendampingi anak PJJ ya, mungkin Ibu lain udah dari awal pandemic ini, tapi posisi kita semua sama Bu, kodrat kita sama ada tidak adanya pandemic kita ini Ibu, madrasah pertama anak kita.


Dari anak kita lahir, kita banyak mengajari ini itu hingga dia bisa dan sampai di tahap sekolah usia dini, gak bisa kita lepas gitu aja. Gak ada pandemic pun kita tetap harus mengajari dan mengawasi anak kita. Mungkin kalo sekolah luring mereka diajari Guru, plusnya mereka bisa bersosialisasi dengan teman dan Guru. Tapi Bu, bukannya bersosialisasi dan bersekolah juga butuh adab? Butuh etika dan kebiasaan yg harus dimulai dari rumah sendiri. Itulah tugas Ibu. Masa untuk belajar adab, kebiasaan baik harus Ibu Guru juga yg mengenalkan ke anak kita? Mau jawab apa kita kalo ditanya Allah Subhanahuwata'ala nanti. Malu Bu 😐


Makanya yuk, dibawa santai aja masa-masa PJJ ini sambil terus berdoa semoga segera selesai pandemic ini. Anak-anak bisa kembali bersekolah sesuai fitrahnya lagi. Tapi, selama masa-masa ini belum lewat dan akan terus kita jalani, mari bergandengan tangan. Ojok dibawa stress Bu, anak kita lebih stress percaya deh, apalagi kalo Ibu marah-marah makin stress mereka.


Sekolah santai, ikuti mood mereka dan mood kita sendiri. Ambil hikmah, karena ini kita jadi lebih paham karakter anak kita tuh seperti apa sih? Bagian mana yang masih perlu di build up? Adab dan pembiasaan yg masih nyeleneh apa aja? Oh jadi gini ya anakku belajar di sekolah? Susah ya ternyata pelajarannya, jadi harusnya aku gak ngoyo ngepush dia karena memang ternyata susah dan anakku masih di tahap mempelajari belum memahami. Dan kalo aku ya, aku ambil hikmah bisa murojaah-an setiap pagi, rajin dzikir pagi dan hafal hadist loh aku sekarang karena anakku setiap hari setoran tugasnya seperti itu 😂


Semangat para pejuang PJJ. Kalo lagi lelah, break sejenak bilang ke suami sebagai support system terdekat, minta gantian kalo misal suami juga WFH. Teruntuk Ibu Pekerja, semoga diberi kemudahan dan kebesaran hati saat tidak bisa mendampingi anak PJJ ya. Kejtup 😘


Psss. 

Melipir piknik sejenak juga boleh loh. Cari tempat outdoor dan yang sepiiiiiii. Jangan lupa patuhi protokol kesehatan, masker jangan dilepas! 



Peluk Virtual ❤️

Sabtu, 30 Mei 2020

Begini rasanya silahturahim virtual?

Setelah melewati Ramadan bersama Covid19, umat muslim didunia sama-sama merayakan hari kemenangan  bersama Covid19 juga, dikarenakan tentara kecil Allah Subhanahuwata'ala tersebut belum mau meninggalkan bumi ini.

Rasanya gimana sih?

Pasti nano-nano ya. Sama, semua sepertinya merasakan hal yang sama.

Banyak tradisi Lebaran yang tidak bisa dilakukan tahun ini.  Banyak rencana yang sudah disusun ternyata gagal direalisasikan tahun ini. Begitulah manusia, sebaik-baiknya pembuat rencana namun rencana Allah Subhanahuwata'ala yang terbaik.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” – (QS Al-Baqarah ayat 216)
“…mereka membuat rencana, dan
Allah pun membuat rencana (pula). Dan
Allah sebaik- baik perencana” (Al-Anfal:30)
“Dan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana.” (Ali Imran: 54)

Begitupun kami, jujur banyak rencana yang sudah tersusun yang akan dilakukan pada libur Lebaran tahun ini. Karena tahun ini jatah kami Lebaran di Bekasi, jadi Mertua dan saudara ipar yang akan berkunjung ke rumah kami, namun harus batal datang karena Covid19.
Adik ipar yang tidak jadi berkunjung dan tidak bisa pula mudik ke Medan.
Bahkan saya, yang notabene masih sekota dengan orangtuapun tidak bisa bertemu. Memilih tidak bertemu tepatnya daripada bersifat egois membahayakan keselamatan mereka. Memilih tetap meneruskan komukasi sebatas Video Call rutin.

Pada akhirnya kami Lebaran di kota masing-masing, dirumah masing-masing. Saya di Bekasi, Orangtua di Bekasi, Adik ipar di Bali, Mertua di Sibolga, Abang Ipar di Tebing Tinggi berkumpul melepas rindu dan bercengkrama secara daring. MasyaAllah begini ya rasanya silahturahim virtual tuh. Tidak sepuas bertemu langsung tetapi tak apalah, daripada bertemu namun menghasilkan mudharat.

Terimakasih teknologi, untuk saat ini engkau mendekatkan yang jauh bukan menjauhkan yang dekat. Bersyukur, bersyukur dan selalu bersyukur.


Yakinlah, kelak cerita 1441H ini bisa kita ceritakan kembali ke anak cucu kita. Bahwasanya, kita pernah melewati beratnya menahan rindu, beratnya menahan rasa egois untuk bertemu bercengkrama langsung dan betapa banyak hikmah yang bisa didapat dari cerita ini.

Ukirlah dan ingatlah selalu, Lebaran tahun ini begitu spesial dan mengesankan untuk kita semua.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum

Rabu, 06 Mei 2020

Ramadan During COVID-19

Bismillah

Bulan suci tahun ini, bulan Ramadan yang selalu dinanti-nanti umat muslim diseluruh dunia terasa berbeda. Seperti yang kita ketahui, tahun ini dunia sedang didatangi oleh makhluk kecil Allah Subhanahuwata'ala, yang amat sangat kecil namun mengguncang bumi-Nya.

Sampai menjelang Ramadan tiba, pasukan kecil tersebut belum mau pergi dari rumah sementara manusia. Sehingga Ramadan dipastikan dijalani dengan suasana berbeda.

Tiada Shalat Tarawih berjamaah di Masjid atau Mushola, tiada Iftar Jama'i, tiada Sahur On The Road, tiada ritual Buka Bersama yang biasa dilakukan dengan dalih "silaturahim"

Suasana boleh berbeda, tapi amalan dan kewajiban di bulan suci tetap sama. Tiada Tarawih berjamaah dimasjid, Tarawihlah berjamaah bersama keluarga, tiada Iftar Jama'i di Masjid, berbuka puasa dengan intimlah bersama keluarga, tiada Sahur On The Road, gunakanlah waktu Subuhmu untuk bermunajat kepada Allah dan membaca ayat-ayat suci-Nya, tiada ritual Buka Bersama, tak apa, silaturahim tidak sebatas hadir saat acara tersebut atau tidak.

Kalau difikir secara logika, Allah memberikan keadaan seperti ini pasti ada alasannya. Mari kita ambil hikmahnya saja. Bukankah dengan keadaan seperti ini Allah memberikan waktu kita untuk beribadah, mengisi hari dengan bermunajat dan kegiatan positif lainnya tanpa harus terdistraksi dengan kegiatan duniawi. Bukankah kita bisa melakukan banyak kebaikan di bulan ini walau hanya bisa kita lakukan secara virtual.

Mengutip perkataan Ust Adi Hidayat "Allah sudah memberikan kondisi Ramadan seperti ini tahun ini untuk memaksimalkan ibadah kita, menyiapkan bekal akhirat kita. Lantas jika masih saja tidak bisa maksimal, harus kondisi seperti apalagi yang Allah berikan kepada kita? Kurangkah ujian saat ini untuk mengingat-Nya?"


MasyaAllah, semoga kita semua tidak menjadi futur dan tetap istiqamah beribadah bahkan terus istiqamah meningkatkan ibadah berkali-kali lipat dari Ramadan yang lalu.